Jumat, 13 Mei 2016

Kefamenanu, Kemendesa – Wilayah Kecamatan Insana Utara, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan langsung dengan Oecussi, Timor Leste,  sangat membutuhkan perluasan dermaga. Hal ini akan memacu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga di sana.

Hal itu dikatakan Camat Insana Utara, Dominikus Sio, hari Kamis (12/5) di kantor kecamatan, ketika menerima kunjungan para peserta Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Pengembangan Daerah Perbatasan. Peserta Rakor dipimpin Dra. Endang Supriyani, MM., Direktur Pengembangan Daerah Perbatasan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT).

Ketika peserta Rakor meninjau pelabuhan laut kecil di situ, terlihat ada sebuah kapal bersandar dan tumpukan peti kemas di pelabuhan. Menurut Dominikus, ia ingin agar pelabuhan itu ditingkatkan kelasnya. Banyak komoditi setempat yang bisa diangkut oleh kapal, jika dermaga itu sudah dikembangkan.

Para peserta rakor, yang mewakili berbagai kementerian dan lembaga, melihat kondisi yang memprihatinkan di Insana Utara. Misalnya, puskesmas Wini yang sudah satu tahun tidak memiliki dokter umum. Hanya ada satu dokter gigi dan lima perawat, untuk melayani lebih dari 2.200 KK.

“Dokternya itu orang sini dan dia dokter PTT (pegawai tidak tetap). Tapi ayahnya terkena stroke dan butuh perawatan khusus. Maka dokter itu tidak memperpanjang kontrak dan kini tinggal di Kupang untuk merawat ayahnya,” ujar Maternus, salah satu perawat.

Selain itu, ada sekolah SMAN Oekolo yang dibangun dengan swasembada warga, dan menampung 65 siswa. Sekolah yang sudah dua tahun berdiri ini punya 17 guru. Lantainya hanya berupa tanah, tidak ditembok. Dinding ruang kelas hanyalah batang-batang tumbuhan yang dirapatkan. Bahkan meja dan kursi yang ada di dalam ruang kelas sangat bersifat darurat. Sebagian hanya potongan kayu dan triplek yang dipaku seadanya, bahkan miring, sehingga tidak nyaman buat menulis.  

Ada juga SD Tempuna dan UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Tempuna, yang untuk menuju ke sana harus melalui lahan luas berlumpur. Camat Dominikus Sio berharap, ada bantuan dari pusat untuk membangun jembatan ke sana. Sehingga para siswa tidak perlu berjalan melingkar jauh, hanya karena untuk menghindari lahan berlumpur.

Persoalan krusial lain adalah ketersediaan air di daerah yang jarang turun hujan ini. Ada desa-desa yang betul-betul minus air. Jika turun hujan, air hanya lewat saja di desa tersebut. Tapi ada juga daerah yang lumayan punya sumber air. “Jadi yang diperlukan adalah sarana tangkapan air atau waduk kecil, atau orang sini menyebutnya embung,” kata Endang.

Banyak hal memang perlu dilakukan untuk memajukan wilayah Insana Utara. Menurut Dominikus, potensi ekonomi wilayah ini sebetulnya cukup besar, termasuk potensi wisata. Tinggal kemudian, bagaimana cara mengembangkannya. ***