Senin, 27 Juni 2016

Kawasan Perdesaan memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Bukan hanya dikarenakan sebagian besar rakyat Indonesia bertempat tinggal di perdesaan, tetapi kawasan perdesaan memberikan sumbangan besar dalam menciptakan stabilitas nasional. Pembangunan kawasan perdesaan merupakan bagian dari rangkaian pembangunan nasional yang merupakan rangkaian upaya pembangunan secara berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pembangunan kawasan perdesaan dilaksanakan dalam upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa di kawasan perdesaan melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Pembangunan kawasan perdesaan tidak terlepas dari kapasitas masyarakat itu sendiri.

Dengan meningkatnya kapasitas masyarakat pasti akan berdampak pada kawasan itu sendiri. Kapasitas dalam konteks ini adalah penguasaan pengetahuan dan informasi maupun keterampilan menerapkan instrumen kebijakan dan program untuk menjalankan fungsi-fungsinya secara efektif dan efisien.

Salah satu cara dalam upaya pengembangan kawasan perdesaan adalah dengan malakukan upaya sosialisasi dengan menggunakan sarana audio visual. Mengapa audio visual? Menurut (Harmawan, 2007) bahwa “Media Audio Visual adalah Media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi) meliputi media yang dapat dilihat dan didengar)”.

Melihat betapa pentingnya media pembelajaran audio visual dalam pengembangan kawasan perdesaan, maka penulis angkat dalam proyek perubahan yang telah dijalani. Selain itu penggarapan ini sesuai dengan tupoksi Subdit Penyiapan Media dan Pembelajaran. Audio visual yang penulis garap berjenis Film dokumenter. Kegiatan produksi Film Dokumenter tentang pengembangan Kawasan Perdesaan dengan kategori Kawasan Agropolitan yang terletak di kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

Dipilihnya kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang tidak terlepas dari keberhasilan kawasan tersebut keluar dari ketertinggalan. Keberhasilan ini ditopang oleh 4 desa yang memberikan sumbangan besar dalam hal pengembangan pertanian.

Setidaknya ada 5 alasan dipilihnya kawasan tersebut sebagai sample dalam pembuatan film documenter kawasan perdesaan agropolitan; Kawasan keempat desa tersebut dipilih karena memiliki potensi pertanian yang beragam dan kerjasama antar desa di kawasan tersebut telah terjalin.

Dengan keberagaman tersebut, mampu menunjang poncokusumo sebagai kawasan agropolitan 10 tahun sebelumnya ke empat desa tersebut awalnya merupakan desa yang sangat tertinggal, desa-desa tersebut masih menerima bantuan dan pendampingan dari program IDT (Inpres Daerah Tertinggal).

Setelah akses 4 jalan dibuka berkat bantuan dari pemerintah, desa-desa tersebut mulai berkembang dan mampu menjadi menjadi penyangga kecamatan Poncokusumo dalam kategori kawasan agropolitan; Untuk aktivitas perekonomin, pasar terdekat terletak di Kecamatan Poncokusumo. Sehingga hasil bumi dan lainnya dari ke empat desa tersebut di pasarkan di pasar kecamatan;

Di keempat desa tersebut banyak ditemui homestay yang dimiliki dan dikelola oleh penduduk setempat. Homestay tersebut banyak berdiri karena selain potensi agropolitan, namun juga banyak terdapat agrowisata seperti agrowisata apel, dan lain-lain.

Dalam penggarapan film dokumenter tentang kawasan perdesaan yang merupakan program proyek perubahan, melibatkan pihak internal dan eksternal. Untuk pihak internal, diantaranya Direktur Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas, Pejabat Pembuat Komitemen, Kasi Pembelajaran pada Subdit Penyiapan Media dan Pembelajaran, staf PNS yang ada, Tenaga Ahli dan Asisten Tenaga Ahli.

Sedangkan untuk pihak eksternal melibatkan Pihak ketiga selaku tim kreatif, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Malang, Camat Poncokusumo, Kepala desa Ngadirekso, Sumberejo, Pandansari dan desa Dawuhan, serta petani setempat.

Dengan banyaknya pihak terlibat ini merupakan bagian untuk mendapatkan film dokumenter yang maksimal, sehingga akan menjadi barometer pembuatan film dokumenter tentang kawasan yang lain.

Adanya film dokumenter tentang kawasan agropolitan ini, diharapkan dapat menunjang kinerja para pendamping perdesaan, aparat pemerintah desa dan pihak terkait dalam upaya mengembangkan kawasan perdesaan serta menjadi inspirasi bagi kawasan perdesaan di daerah lain.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam kontek pengembangan wilayah mengingat : Kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan local, pengembangan kawasan agropolitan dapat meningkatkan pemerataan mengingat sektor yang dipilih merupakan basis aktifitas masyarakat, keberlanjutan dari pengembangan kawasan dan sektor menjadi lebih pasti mengingat sektor yang dipilih mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif dibandingkan dengan sektor lainnya.

Selanjutnya, memberikan wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai hal yang terkait dengan pembangunan kawasan perdesaan Agropolitan secara lebih efisien dan efektif. Hal penting lainnya adalah menjadi inspirasi bagi kawasan perdesaan yang sedang mengembangkan sektor agropolitan.

Mengingat, akan pentingnya audio visual dalam bentuk film dokumenter ini, maka kedepan perlu dikembangan dan memperbanyak konten-konten media pembelajaran dalam bentuk audio visual, sehingga masyarakat lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan.

Selain itu, perlu adanya sosialisasi terhadap hasil proyek perubahan ini kepada masyarakat luas, sehingga proyek ini tidak hanya sebatas film, serta dapat dirasakan fungsinya bagi semua kalangan.

 

Oleh: Dr. Sa’dullah, M.Ag *

*(Kasubdit Penyiapan Media dan Pembelajaran.  Direktorat Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas. Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan.  Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi)