Kamis, 08 Desember 2016

Indramayu - 42 tahun silam atau tepatnya pada 11 Maret 1974, sebuah kecelakaan menimpa rombongan para transmigran asal Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Salah satu bus yang mereka tumpangi menuju lokasi Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Rumbiya, Sumatera Selatan, tergelincir dan masuk ke sungai Kali Sewo, Desa Sukra, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 67 orang meninggal dunia. Mereka terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Para korban meninggal dunia lantas dimakamkan di dekat pemakaman umum yang terletak di lokasi kejadian. Lokasi tersebut lalu dikenal dengan Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi.

Diantara rombongan yang mengalami musibah kala itu, terdapat tiga orang anak yang selamat. Mereka adalah Djaelani, Suyanto, dan Sangidu. Seiring waktu berjalan, mereka kemudian diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Transmigrasi dan PPH, Kantor Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Peristiwa tersebut kini terus dikenang dalam Peringatan Hari Bakti Transmigrasi (HBT).

”Mereka yang meninggal di tempat ini merupakan kelompok warga pertama yang akan diberangkatkan ke lokasi transmigrasi pertama kali di Indonesia. Mereka adalah pionir pembangunan transmigrasi," ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (PKP2Trans), Ratna Dewi Andriati, saat berziarah di Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi dalam rangkaian HBT 2016, di Indramayu, Rabu (07/12). Turut hadir pada ziarah ini Dirjen Penyiapan Kawasan Transmigrasi, Roosari Tyas Wardani.

Ratna menambahkan, ziarah ini dilakukan untuk kembali mengingat peristiwa penting dalam sejarah pembangunan transmigrasi di Indonesia. Selain ziarah, santunan sosial juga disampaikan kepada tiga korban selamat. Hal tersebut dilaksanakan sebagai rangkaian Hari Bakti Transmigrasi (HBT) ke-66 yang diperingati setiap tanggal 12 Desember. Wakil Bupati Indramayu, Supendi, turut hadir dalam ziarah yang merupakan kegiatan tahunan ini.

Secara historis, permulaan penyelenggaraan transmigrasi dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 1950. Pemerintah Indonesia secara resmi melanjutkan program kolonisatie yang telah dirintis pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 dengan nama yang lebih nasionalis yaitu transmigrasi. 

Pembangunan transmigrasi merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan daerah. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan, terutama di kawasan yang masih terisolasi atau tertinggal. Tujuan yang diharapkan yakni meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitarnya.

 

Indramayu, 7 Desember 2016

Biro Humas dan Kerjasama

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

Fajar Tri Suprapto

 

www.kemendesa.go.id