Rabu, 26 Juli 2017

Yogyakarta - Masih maraknya kehadiran 'tengkulak' yang menjual hasil panen dan menekan para petani di beberapa pedesaan membuat Kementerian Desa, PDT, dan
Transmigrasi mengambil langkah menggalakkan empat program unggulan yang  didesain untuk membuat desa-desa jadi mandiri.
 
"Sekarang ini masih ada model-model tengkulak. Nah kita sekarang dorong para petani untuk menjalankan empat program unggulan  yang tujuannya untuk membuat desa-desa jadi mandiri" demikian disampaikan Menteri Desa, PDT, dan
Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat menghadiri acara 1 tahun Inaker Fun Bike di Lapangan Gendengan, Margodadi, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (16/4/2017).
 
Empat program yang dimaksud adalah Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), di mana diharapkan bisa menghasilkan skala ekonomi yang besar.
 
"Dengan cara ini dunia usaha masuk ke desa, masyarakat pun tak perlu pusing lagi memikirkan tentang proses pascapanen. Karena sarana pascapanen merupakan hal penting dalam sektor pertanian. Pasar akan melirik hal tersebut lantaran sarana pascapanen akan  meningkatkan nilai tambah produk pertanian baik dari segi jumlah maupun kualitas," jelas Eko.
 
Selain itu, menurut pria yang hobi bersepeda ini, kesempatan masyarakat ditekan juga akan semakin kecil. Hal tersebut tentu berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.
 
"Nanti desa diminta agar menentukan produk unggulannya dan fokus mengembangkan hal tersebut. Dengan fokus pada produk unggulan, maka diharapkan terdapat peningkatan skala produksi yang tinggi," kata Eko.
 
Selain Prukades, lanjut Eko, tiga program unggulan Kemendes PDTT lainnya dalam upaya percepatan pembangunan desa yakni mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membangun embung air desa, dan membangun sarana olahraga desa. 
 
"Satgas Dana Desa juga akan mendorong dan mengingatkan agar para kepala desa menjalankan empat program unggulan Kemendes PDTT. Selain itu, Satgas juga akan tetap menjalankan tugas utamanya, yakni mengawasi dan mencegah adanya penyelewengan dana desa," ungkap Eko.
 
Untuk diketahui, pada tahun 2015, Dana Desa yang terserap dari Rekening Pemerintah Daerah ke Pemerintah Desa telah mencapai 93,17%. Kemudian pada tahun 2016, jumlahnya meningkat menjadi 96,32%. Sementara tahun 2017 ini, tercatat hingga 16 Juni lalu, sudah terdapat 413 daerah yang tersalurkan Dana Desa 2017 tahap pertama dengan persentase penyaluram mencapai 95,54%.
 
Pemanfaatan Dana Desa pada 2016 lalu sudah sangat beragam dengan mayoritas digunakan utk peningkatan dan perbaikan infrastruktur dasar yang mendukung kegiatan perekonomian. Tercatat, pemanfaatan Dana Desa 2016 diantaranya digunakan untuk jalan desa sepanjang 66.884 km, saluran irigasi 12.596 unit, embung 696 unit, pasar desa 1.819 unit, PAUad 11.296 unit, Polindes 3.133 unit, Posyandu 7.524 unit, dan Posyandu 7.524 unit.
 
Hingga tahun 2017 ini, Dana Desa juga menstimulasi terbentuknya BUMDes sebagai penggerak ekonomi masyarakat desa sebanyak 18.446 unit. Beberapa BUMDes yang berkembang diantaranya memiliki omset antara Rp 300 juta hingga Rp 10 milyar. Hadirnya BUMDes merupakan upaya utk terus meningkatkan produktivitas masyarakat dan menciptakan lapangan usaha baru. Dengan demikian, masyarakat desa akan mendapatkan manfaat langsung yakni peningkatan pendapatan. 
 
Secara garis besar, adanya percepatan pembangunan di desa tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para tenaga kerja produktif di desa, khususnya para pemuda, utk bersama-sama bergotong royong membangun dan memajukan desanya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.