Mengenang Pionir Transmigrasi

  Jumat, 08 Desember 2017

INDRAMAYU - Demi sebuah kehidupan yang layak dan masa depan yang lebih baik, ratusan orang transmigran asal Kecamatan Ngandon, Kabupaten Boyolali menempuh perjalanan menuju lokasi transmigrasi yang terletak di UPT Rumbiya, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Namun harapan itu kandas setelah bus yang ditumpanginya tergelincir kemudian masuk sungai dan terbakar di kali Sewo, Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Musibah yang terjadi pada pukul 04.30 dini hari tersebut, terjadi pada salah satu bus dari, enam buah bus yang akan berangkat, dari musibah itu mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 67 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Diantara rombongan yang mengalami musibah, terdapat tiga orang anak-anak yang selamat mereka adalah Jaelani, Suyanto dan Sangidu, kemudian diangkat sebagai anak angkat keluarga besar transmigrasi.

Semua Korban tewas dimakamkan di dekat pemakaman umum yang terletak dekat dengan lokasi kejadian. Itulah sepenggal kisah yang memilukan yang terjadi pada 11 Maret 1974 silam, yang merenggut nyawa dari para pionir pembangunan transmigrasi.

Pada Kamis (7/12) di Monumen Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi, Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu dilakukan ziarah untuk kembali mengenang kejadian itu. Nampak dalam kegiatan tersebut hadir Plt.Dirjen Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi, Kemendes PDTT, Putut Edy Sasono, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Roosari Tyas, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kab.Indramayu Daddy Haryadi dan Ketua Umum PATRI (Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia) Sugiarto Sumas, anggota TNI/Polri, dan peserta ziarah lainnya, serta tiga orang yang selamat pada kejadian 1974 silam yakni Jaelani, Suyanto dan Sangidu.

Putut mengatakan, ziarah ini penting dilakukan untuk kembali mengingat kejadian penting dalam sejarah pembangunan transmigrasi di Indonesia. "Mereka yang meninggal di tempat ini merupakan kelompok warga pertama yang akan diberangkatkan ke lokasi transmigrasi pertama kali di Indonesia, mereka adalah pionir pembangunan transmigrasi," ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Roosari Tyas mengatakan bahwa transmigrasi masih bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sosial bagi daerah yang memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi. Namun demikian, tidak semua orang bisa memahami akan pentingnya transmigrasi akan tetapi pihaknya tetap optimis program transmigrasi bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kesenjangan sosial.

Ketua Umum PATRI ( Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia) Sugiarto Sumas mengatakan bahwa peringatan HBT dengan berziarah nasional ini menggambarkan bahwa transmigran selalu ada di hati Pemerintah, dan kepahlawanan dari transmigrasi itu ada di lapangan baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal karena perjuangan dari transmigrasi adalah mempersatukan bangsa. Harapan ke depan agar transmigrasi tetap dikembangkan apapun polanya untuk menjadi perekat bangsa.