Akademi Desa 4.0 Maksimalkan Pelatihan BUMDes

  Selasa, 03 Juli 2018

JAKARTA - Dalam tiga tahun terakhir telah terbentuk sekitar 30.000 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari total 74.957 desa. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 10.000 BUMDes telah berhasil memiliki keuntungan. Artinya, sekitar 20.000 BUMDes belum berhasil mengembangkan usahanya dengan baik. Hal tersebut diungkapkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Selasa (3/7).

"Karena memang tidak semua bisa mengelola usaha seperti BUMDes. Untuk itu kita bekerjasama dengan BUMN melalui bank Himbara untuk melatih 1.500 BUMDes setiap tahunnya. Tapi kalau hanya 1.500 BUMDes per tahun, dalam 10 tahun saja baru 15.000 BUMDes kan," ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut menurutnya, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi memaksimalkan Akademi Desa 4.0 untuk memberikan pelatihan kepada pengelola BUMDes. Melalui Akademi Desa 4.0, pengelola BUMDes dapat mengakses modul-modul pelatihan dalam bentuk video secara mandiri.

"Nanti mereka juga akan disertifikasi," sambungnya.

Tahun ini, BUMDes menjadi salah satu program prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi selain Prukades, embung desa, dan sarana olahraga desa. Keempat program prioritas tersebut diharapkan mampu meningkatkan perekonomian di desa.

"Di samping itu ada padat karya tunai dana desa. Dana desa itu idenya adalah uang dikasih ke desa dipakai untuk pembangunan desa, sehingga uang itu bisa menggerakkan ekonomi desa," ujarnya.

Ia mengatakan, pembangunan dana desa tahun sebelumnya memang masih ada yang menggunakan kontraktor. Namun tahun ini, semua proyek dana desa wajib dilakukan secara swakelola.

"Memang dulu aturannya proyek di atas Rp200 juta tidak boleh swakelola. Tapi sekarang aturannya diubah. Untuk dana desa harus swakelola, berapapun jumlah proyeknya," tegasnya.

Untuk diketahui, Akademi Desa 4.0 merupakan wadah pelatihan dari kementerian desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi yang diluncurkan sejak 24 mei 2018. Akademi desa 4.0 didukung oleh lebih dari 100 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides)sebagai trainer.