Perempuan Berperan Penting dalam Pembangunan Perbatasan dan Pulau Kecil Terluar

  Kamis, 27 September 2018

JATINANGOR – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmugrasi (Kemendes PDTT) yakin bahwa keadilan gender memiliki pengaruh yang signifikan pada pembangunan, khususnya di wilayah perbatasan dan pulau kecil terluar. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pengembangan Daerah Pulau Kecil Terluar (PDPKT) Hasrul Edyar, yang hadir mewakili Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (Ditjen PDTu) Aisyah Gamawati, di sela-sela Seminar Nasional Kemitraan Gender dan Pembangunan di Pulau Terluar, Rabu (26/9).
 
Hasrul mengibaratkan kaum perempuan seperti sebuah sekolah. “Jika kalian mendidiknya dengan baik, berarti kalian sedang mempersiapkan sebuah bangsa dengan baik,” kata Hasrul.

Selanjutnya Ia menambahkan, bahwa kaum perempuan juga memiliki peran besar dalam pendidikan. Utamanya sebagai pendorong dan motivator ulung dalam mencapai keberhasilan. “Oleh karenanya perempuan perlu membekali dirinya dengan pendidikan dan keterampilan yang mumpuni untuk memainkan peranan lebih besar dalam masyarakat seperti menjadi tokoh sosial maupun tokoh di pemerintahan,” imbuh Hasrul.
 
Terkait dengan program dari Direktorat PDPKT yang dipimpinnya, Hasrul menjelaskan bahwa banyak program yang dilaksanakan di daerah pulau kecil dan terluar melibatkan langsung kaum perempuan sebagai pelaksana dan penentu kesuksesan program kegiatan. “Contohnya dalam pengembangan rumput laut, 75% rangkaian prosesnya mulai dari pembuatan petak budidaya, pemasangan bibit sampai dengan panen dan penjemuran, dilakukan oleh kaum perempuan,” ungkapnya.

Dari contoh terseebut terlihat juga pada kegiatan serupa yang difasilitasi oleh Kemendes PDTT di Maluku Tenggara Barat pada 2017 silam.
 
Senada dengan Hasrul, Agam Bekti Nugraha dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga menyampaikan bahwa kesetaraan jender merupakan salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
 
“Masuk dalam prioritas karena hampir semua provinsi di Indonesia memiliki tingkat kemiskinan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, salah satunya dibuktikan dengan rendahnya proporsi perempuan bekerja,” ujar Agam.

Menurutnya hal itu perlu diselesaikan, salah satunya dengan secara konsisten menguatkan kapasitas kaum perempuan.
 
Penguatan tersebut diamini pula oleh Martha Rambu, Direktur yayasan Bahtera Sumba Barat, NTT. “Pemberdayaan yang disampaikan sebelumnya oleh Pak Agam, merupakan upaya untuk membentuk perilaku para kaum perempuan khususnya dari sisi kapasitas, cara pandang dan kesadaran kritis," tutur Martha.
 
Seminar dilaksanakan di Gedung A FISIP Universitas Padjadjaran Jatinangor dengan menghadirkan Wakil Dekan Dr. Wahju Gunawan, dosen, mahasiswa serta para pegiat isu kemitraan gender serta LSM. (*)