Delegasi Negara Berkembang Belajar Inovasi Desa di Indonesia

  Rabu, 17 Oktober 2018

BADUNG - Program Inovasi Desa (PID) yang digagas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus digaungkan melalui Bursa Inovasi Desa (BID). Hal itu dilakukan sebagai ajang replikasi untuk desa-desa lain di Indonesia maupun di negara berkembang.

BID kali ini diadakan di Desa Kutuh, Badung, Bali dan diikuti oleh perwakilan delegasi peserta Fourth High Level Meeting on Country Led Knowledge Sharing (HLM4 on CLKS).

Salah satu peserta HLM 4 on CLKS yang ikut mengunjungi Bursa Inovasi Desa di Desa Kutuh, Vincent Ribiere dari Institute For Knowledge and Innovation Southeast Asia (IKI - SEA) Bangkok University, Thailand menyatakan kekagumannya terhadap inovasi-inovasi desa yang ada di Indonesia.

"Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Indonesia, saya sangat surprise dan kagum terhadap inovasi yang dilakukan  di Indonesia, khususnya desa-desa di Bali ini, dan ini adalah suatu pendekatan yang tidak biasa, tapi mempunyai daya dorong yang sangat kuat," ungkapnya.

Menurutnya, Program Inovasi Desa ini sangat bagus, dan program ini bisa meningkatkan indeks kebahagiaan karena bisa meningkatkan taraf hidup. "Program ini sangat menginspirasi. Terima kasih untuk program-program yang luar biasa ini, tetap terus lakukan program-program ini," pesannya.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Moh. Fachri mengatakan Inovasi desa ini didesain untuk meningkatkan kualitas penggunaan dana desa. "Secara filosofis Bursa Inovasi Desa ini merupakan forum untuk knowledge sharing bagi desa-desa lainnya agar bisa mereplikasi atas praktik-praktik baik yang sudah dikembangkan desa-desa lain. Sehingga diharapkan ke depan APBDes-nya bisa lebih meningkat dengan adanya income yang didapatkan dari pengembangan sebuah kegiatan melalui Bursa Inovasi Desa," terangnya usai Pembukaan Bursa Inovasi di Wantilan Rangdu Kriya Mandala, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (16/10).

Terpilihnya Desa Kutuh sebagai tempat penyelenggaraan BID sebagai salah satu komponen program dari Inovasi Desa karena Desa Kutuh sudah melakukan kegiatan yang sangat inovatif dan menginspirasi desa-desa lain. BID ini sebagai tempat berbagi pengalaman program desa.

"Kita mengajak mereka (peserta BID) ke sini untuk bagaimana mereka bisa melihat, bagaiman proses replikasi atas inovasi yang akan dilakukan oleh desa-desa melalui Bursa Inovasi Desa," tambahnya.

Ini pertama kalinya BID Digital dilaksanakan. Sebelumnya berbasis pembelajaran. Dan menurutnya ini sebuah kemajuan dan bisa dicontoh di daerah-daerah lain.

Lokus program untuk Inovasi Desa ada di 434 kabupten, melingkupi 6.453 kecamatan.  "Jadi kita menjangkau hampir seluruh wilayah atau daerah penerima dana desa. Di tiap daerah akan ada Bursa Inovasi Desa," katanya.

Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Internasional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas Wisnu Utomo mengatakan bahwa kehadiran delegasi HLM4 on CLKS dalam kegiatan ini sengaja diinisiasi oleh Kemendes PDTT bersama-sama dengan Kementerian PPN/Bappenas.

Tema HLM 4 on CLKS ini bagaimana inovasi desa itu bisa menginspirasi pembangunan global.  "Jadi ini sangat pas kerja sama dengan Kemendes PDTT bagaimana kita menyampaikan kepada delegasi tentang inovasi yang ada di desa kepada 42 negara yang mengikuti technical meeting. Sehingga bisa membuat atau mempelajari apa-apa yang sudah dilakukan di Indonesia," jelasnya.

Seperti hari ini, lanjut dia, mereka diajak ke Desa Kutuh, bisa jadi karena tingkat perkembangannya sama dengan di Indonesia. Jadi ini kesempatan yang bagus buat Desa Kutuh untuk bisa memberikan pembelajaran kepada desa lain agar bisa diterapkan di desa lain juga.

Kapala Desa/Perbekal Desa Kutuh, Perbekal Desa Kutuh, I Wayan Purja mengatakan pelaksanaan BID di Desa Kutuh dan kunjungan delegasi ke desanya merupakan suatu kehormatan dan kepercayaan. Nilai positifnya desanya bisa dikenal oleh teman-teman di seluruh Indonesia bahkan di dunia.

"Tapi sebuah tantangan bagi kami yaitu harus terus berinovasi. Inovasi tidaklah sulit, kalau kita hanya membayangkan memang sulit, tapi mari kita laksanakan, berusaha sesuai dengan kondisi desa kita masing-masing," pesannya.(*)