Lembaga Keuangan Independen untuk Daerah Tertinggal

  Selasa, 26 Desember 2006

Laporan Wartawan Kompas Robertus Benny Dwi K


DENPASAR, KOMPAS - Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal memfasilitasi pembentukan lembaga keuangan independen di setiap daerah sebagai upaya pencarian sumber daya alternatif di luar APBD dan APBN. Lembaga keuangan independen itu diharapkan menjadi akselerator pembangunan di kawasan-kawasan tertinggal yang tersebar di hampir seluruh wilayah Tanah Air.

“Kami menargetkan rencana ini mulai terealisasi tahun 2008. Selain sebagai akselerator pembangunan terutama di daerah tertinggal, tujuan utama program ini adalah untuk mengurangi ketergantungan daerah pada APBD dan terutama APBN,” kata Tatag Wiranto, Deputi Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha, seusai membuka Seminar Alternatif Pembiayaan Pembangunan Daerah yang digelar Abhiseka Institute di Sanur, Bali, Kamis (21/12).

Tatag mengungkapkan, Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal sudah merampungkan studi tentang lembaga keuangan independen di dalam dan luar negeri. Intinya, lembaga itu bisa terdiri dari pemangku kepentingan di masing-masing daerah, yakni masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, dalam bentuk sebuah badan usaha milik bersama (BUMB).

Meskipun sejumlah daerah maupun yayasan swasta sudah mencoba melakukan hal semacam ini dan berhasil, tapi usaha mereka masih parsial. Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal ingin mengkosolidasikan hal itu sehingga gaung maupun efek positifnya menasional.

Yang masih menjadi persoalan saat ini adalah proses penghimpunan dana sebagai modal awal pembentukan lembaga itu secara nasional, sekaligus proses legalisasi keberadaan lembaga itu. Untuk modal awal, diperlukan dana sekurang-kurangnya Rp 2 triliun atau sekitar 200 juta dollar AS.

Tatag menyatakan, diusahakan modal awal itu terkumpul secara swadana atau bersifat voluntary dari swasta dan masyarakat. Setelah rencana ini berhasil, diharapkan masing-masing daerah dapat meniru dan mengembangkannya di daerah sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.